Seberkas Cahaya

Selamat pagi kawan 🙂

 

Hidupkanlah hidupmu!

Jangan karena orang lain mengabaikanmu dan hidupmu, kamu juga jadi mengabaikan dirimu sendiri!

Hidupmu terlalu berharga untuk diabaikan begitu saja, kawan!

Buktikan pada dunia bahwa kita bukanlah sampah yang hanya memenuhi dunia saja!

Kita berkarya,  Kita bermakna!

Tetap semangat! 🙂

Betapa Beruntungnya Aku! :) (Part 1)

Selamat sore agan-agan semua 🙂

Kadang dalam hidup kita jarang sekali bersyukur akan setiap anugerah yang telah kita terima dari Tuhan, dan sering menyalahkan Tuhan akan setiap ketentuan yang telah ditetapkan pada kita. Betapa beruntungnya aku, betapa beruntungnya kita semua mempunyai Tuhan yang amat luas kesabarannya dan kasih sayangnya sehingga Dia tidak mengutuk hidup umat-umat -Nya yang ingkar dan selalu berbuat dosa. Kita diberikan kesempatan untuk menjalani hidup, diberi kesehatan, diberi anggota tubuh yang lengkap, diberi akal budi, dan diberi segala-galanya. Masih berpikir bahwa kita hidup penuh kesialan? Silahkan direnungkan kembali kawan dan sadarilah bahwa betapa beruntungnya aku, betapa beruntungnya kita! 🙂

istri-sholihah

Sumber gambar : http://mywira.blogspot.co.id/2010/10/betapa-beruntungnya-menjadi-wanita.html

Terpuruk Lagi

Sebelum-sebelumnya gue mewacanakan diri untuk segera bangkit, entah bangkit dari ketertinggalan atau bangkit dari keterpurukan yang udah mendarah daging dalam hidup gua. Lucunya, belum lama wacana tersebut didengungkan dan digaungkan (lebay deh bahasanya wkwkwkw), gua terpuruk lagi. Dan kali ini rasanya terpuruknya lebih dalam dari biasanya. Kalo biasanya “kayak ada pahit-pahitnya” sekarang jadi “kagak ada manis-manisnya” (ya iyalah, mana ada keterpurukan yang rasanya “legi” hadeuh :’V ). Rasanya males mau ngapa-ngapain, males juga buat di apa-apain (ckckck :’V ). Yaudahlah, gua nikmatin aja, hidup ga melulu mulus kaya pantat penggorengan eh.. bukan… pantat bebek yang bener 😀 . Hidup juga ga senikmat lubang berjalan (eh…. :’V ). Sekian dari gua… Selamat berhari senin… bye 😀

Puisi Ihwal Dunia

Aku tak butuh dunia

Aku tak butuh apapun berkaitan dengan materi

Mereka sangat mengecewakan

Ada pepatah yang ngawur

Dan amat masyhur di negeriku ini

“Yang jujur bakal hancur”

Demikian rendahnya nilai kejujuran di mata mereka

Nurani seakan dibuang jauh

Dipangkas dan dipasung dalam gudang yang amat gelap

Mengejar sesuatu hal yang fana

Melebihi mengejar ridho Tuhan-Nya

Apakah Tuhan tak cemburu dengan perlakuan sedemikian rupa?

Sadar bahwa diriku hanyalah pemimpi

Angankan seolah dunia ini sempurna

Namun jauh panggang dari api

Kelewat naïf pandanganku mengenai ini

Dimana ada orang jahat tentunya ada orang baik

Tapi nyatanya tiada sebanding

1 berbanding 1000 orang

Di pihak yang baik pun terselip angkara murka

Yang setiap saat dapat mengemuka

Inilah mengapa dunia seisinya disebut fana

Tuhan tak mencipta semesta ini abadi

Ada rentang waktu yang telah dilalui

Meski terkesan amat sangat panjang

Namun menurut pandangan para bijak bestari

“Sekejap mata dari masa aku dilahirkan hingga rambutku semua sekarang telah dipenuhi uban.”

“Tak lama aku akan dipeluk maut.”

“Izrail begitu rindu bersua denganku.”

“Hei pemuda! Jangan kau berbangga!”

“Seperkasa apapun engkau, engkau tak lain ialah tanah!”

“Tanah seiring waktu pasti akan musnah dan sirna.”

“Tak ada yang abadi, tak ada yang abadi!”

Arus

Selamat malam dunia 😀

Jika anda dihadapkan pada dua pilihan ini :

  1. Tidak mengikuti arus (dalam bahasa lain melawan arus) dan mati
  2. Terus mengikuti arus dan terus hidup

Pilihan manakah yang akan anda pilih?  🙂

It’s Not A Goodbye?

Sedari tadi Arik terus memandangi Maemunah. Namun yang dipandangi malah cuek bebek, terus saja sibuk mengobrol sama temen sebangkunya si Dewi. Lama kelamaan Arik jadi bete dan lebih memilih becanda sama sohib kentelnya si Didit sambil sesekali ngejailin Siti sama Juleha yang dari tadi kaga berenti selpi. Mulai dari pose “peace” sambil masang wajah manyun sampe melet-melet kayak tokek lagi kecekek. “Perasaan alayers-alayers di dahsyat kaga gitu-gitu amat, deh!” sindir Arik sambil ngakak. Ga lama kemudian pala Arik benjol ditimpukin sepatu. “Anjir… awas ya kalian berdua! Gua jitak baru tau rasa! rutuk Arik sambil ngejar-ngejar dua perawan itu yang lari sembari cengar-cengir. Entah kenapa Arik menghentikan langkahnya, meskipun Siti dan Juleha terus menggoda dan menjulurkan lidahnya Arik tidak berhasrat untuk membalas perbuatan mereka lagi. Rupanya dia kepikiran Maemunah. Meski dia sempet keki lihat kelakuan gadis itu, dia coba untuk menenangkan pikirannya sejenak dan memandang Maemunah dari jauh. “Cantik banget! Manis wajahnya ga nahan! Mungkinkah gue dapetin dia?” gumam Arik. Kelas emang lagi kosong sekarang, dosen yang dinanti tak kunjung datang. Arik bisa leluasa duduk dengan santai sembari menyenderkan kakinya ke atas bangku. “Like a boss” begitulah kira-kira kondisi Arik sekarang. Tiba-tiba, penanggung jawab kelas pun datang. “Pak dosen kaga bisa masuk kelas hari ini, beliau berhalangan…” belum selesai PJ kelas mengumumkan, Agil si iseng menimpali “Lu kira pak Boy lagi mens jadi bisa berhalangan segala!” seisi kelas langsung tertawa terbahak-bahak. Izul yang belum selesai ngomong kontan langsung cemberut sembari berteriak “Belum kelar kampret, gue terusin bacain pengumumannya kaga?”. “Iye.. iye… gitu aje udah ngambek” sahut seisi kelas. “Oke.. oke.. gue terusin… Pak Boy kaga bisa hadir pada hari ini. Beliau ada urusan di luar kota. Jadi, kelas kita hari ini kosong. Kalian boleh pulang!” Ujar Izul. “Tau gini, gue kaga bakalan masup, dah! ckckck…” gerutu Arik, “Iye nih rik, buang-buang waktu aje! Huft…!” rutuk Didit. Arik dan Didit dengan cepat memasukkan alat-alat tulis ke dalam tas butut mereka. Sebelum beranjak dari tempat itu, Arik secara tak sengaja melihat Maemunah tersenyum padanya, tapi Arik tak berani membalas senyuman Maemunah dan hanya bisa menunduk malu. Seperti kilat, Maemunah dan kawan-kawannya sudah berlalu dari hadapan Arik. “Cepet banget perginya!” gumam Arik. Pada hari itulah bisa dikatakan “pertemuan terakhir” nya dengan Maemunah. Segala rasa yang sedari tadi bergemuruh dalam dadanya menguap seketika. Pandangan matanya kosong. Tubuhnya terkulai layu. Hasrat yang sudah 2 tahun ia pendam dalam hatinya nampaknya akan terpendam jauh lebih lama lagi atau bahkan untuk selamanya.

Apalah Arti Menunggu? (Laki-Laki Menunggu? Ya Elah…) Part 1

Sesuai judul post ini, sebenernya sih niatnya nyindir diri sendiri aja. Masak laki-laki, seorang lelaki, pejantan, a man nungguin si cewe bereaksi baru kemudian beraksi untuk mendapatkan hati si cewe? Playboy cap apa aja pasti bakal ngakak ngeliat temen cowoknya ada yang model beginian wkwkwkw

Untuk kelanjutannya, akan gua kupas lebih dalam pada post-post selanjutnya. Maaf ye, gua keburu nih. Mau balik dulu ke kampung halaman hehehe. Akhir kata : see ya! 🙂